Keraton Gelar Labuhan di Parangkusumo, Memperingati Jumenengan Sultan HB X

PERINGATAN : Peringatan Jumenengan Sri Sultan HB X di Parangkusumo. (BeeNews.id/doc)

BANTUL – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar hajad dalem labuhan patuh dalam rangka memperingati tinggalan jumenengan dalem (peringatan penobatan atau kenaikan takhta Sultan HB X). Labuhan tersebut tidak melibatkan banyak orang dan berlangsung cepat karena pandemi Covid 19.

Dilansir dari sindonews.com, prosesi dialami puluhan andi dalem Keraton Yogyakarta yang mengenakan pakaian pranakan Jawa tiba di Joglo Kpanewonan Kretek pukul 09.00 WIB. Mereka datang dengan membawa sejumlah ubo rampe (sesaji) yang akan dilabuh atau dilarung ke laut.

Upacara serah terimapun dilaksanakan oleh pihak Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat kepada juru Kunci Cepuri Kretek disaksikan oleh Bupati Bantul, Abdul Halim Muslich Sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan kemudian berangkat menuju ke situs cepuri yang berada di Kompleks Pantai Parangkusumo Kretek Bantul.

Namun prosesi doa dilaksanakan terlebih dahulu di Kompleks Cepuri, situs yang diyakini merupakan tempat pertemuan Sri Sultan HB X dengan Nyi Roro Kidul. Di kompleks Cepuri, prosesi meneliti kembali ubo rampe dilaksanakan sebelum akhirnya dikemas dalam tempat tempat anyaman bambu kasar pun dilaksanakan.

Ratusan abdi dalem mengikuti prosesi yang dilaksanakan tersebut. Ribuan wisatawan juga menyaksikannya rangkaian upacara ini. Ubo rampe tersebut di antaranya adalah Kain (Semekan) Sri Sultan HB X yakni Semekan Colok, Semekan Gadung, Semekan Melati, Semekan Jinggo, Semekan Ubo rogo, Semekan Bangun Tulak, 900 Lisah Konyoh, dan Yotro (uang) tindah 1 amplop.

Kemudian ada penderek, di antaranya seperti Nyamping Poleng 1 lembar, Nyamping Teluh Watu, Semekan Grimin 1 lembar, Semekan Songer 1 lembar, Semekan Pandan Ginethok 1 lembar, Semekan Podang Ngisep Sari 1 lembar, Semekan Bangun Tolak 1 lembar, 900 lisah konyoh, Yotro 1 amplop.

Lorodan Ageng Kagungan Ndalem diantaranya seperti Destan 1 biji, Rasukan Surjan 1 lembar, Nyamping 1 lembar, Hem 1 lembar, Lancingan kembar 1 lembar, lancingan 1 lembar. Kemudian Rikmo (rambut) kenoko dalem, Layung Sekar Kyai Ageng 1 karung, Layung Sekar 1 goni (karung).

Beberapa saat kemudian, puluhan abdi dalem KeratonYogyakarta membawa ubo rampe tersebut ke tepi Pantai Parangkusumo. Belasan pemuda dengan telanjang dada membawa ubo rampai diiringi ratusan abdi dalem.

Iring-iringan ubo rampe ini dikawal ketat ratusan Paksi Kraton, TNI/Polri dan anggota Tim SAR. Di tepi pantai, pimpinan rombongan kemudian terlihat memanjatkan doa dengan diamini oleh para abdi dalem.

Sejurus kemudian, para pemuda bertelanjang dada mengangkat ubo rampe tersebut ke tengah laut dan melarungnya. Ratusan warga berebut berbagai ubo rampe yang dibuang tersebut sekembalinya ke tepi pantai akibat terbawa gelombang pantai selatan.

Advertisements

Carik Tepas Donopuro Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Wijaya Pamungkas menuturkan Labuhan ini sebagai bentuk manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di mana pada saat ini dalam memimpin Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat selalu diberi kesehatan.

Selain itu, Labuhan ini juga sebagai sarana syukur kepada Allah SWT dengan harapan Labuhan ini, Allah akan memberikan sesuatu yaitu aura positif. Terlebih saat ini dalam kondisi pandemic COVID-19.

Melalui labuhan ini, Keraton Yogyakarta berharap Tuhan akan memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya untuk keselamatan dan untuk kesejahteraan Ngarso dalem Keraton Ndalem dan juga masyarakat.

“Yang dilabuh di antaranya kuku, rikmo ada atau rambut dan juga pakaian Ngarso Dalem. Barang-barang itu akan dihapus dibuang,” terangnya.

Kepala Dinas Kundo Budoyo Bantul, Sapto Nugroho menambahkan setiap tahun sekali serah terima dari ubo rampe labuhan yang dilaksanakan di Pendopo Kapanewon Kretek. Setelah diterima di Kapanewonan lantas akan diserahkan kepada juru kunci Cepuri untuk segera dilakukan prosesi Labuhan di Parangkusumo.

“Karena memang pada saat ini kita masih dalam pandemic maka untuk kegiatan ini kita sederhanakan. Dalam artian jumlah orang yang mengikuti dibatasi. Dengan harapan kita nanti jaga jarak ataupun Protokol kesehatan dapat kita laksanakan, sehingga acara ini dapat terlaksana tetapi kita dapat mencegah penyebaran COVID-19,” pungkasnya.
(Red2/Seni & Budaya)

Editor : Irene Indah

TAG :, ,
Statistik Situs
  • Total halaman dikunjungi: 119,699