Daging Blengong Goreng Pak Taswadi, Gurih dan Bikin Ketagihan

LEGENDARIS : Blengong goreng Bapak Taswadi yang legendaris, langganan para orang penting. Karna cita rasa makanannya yang enak dan gurih membuat warung makan ini selalu ramai pengunjung yang hendak makan. (BeeNews.id/Zuhud)

TEGAL – Ini dia kuliner di Tegal yang rekomendasi, Blengong Goreng Bapak Taswadi. Ke Kota Tegal rasanya kurang lengkap jika tidak mencicipi aneka kulinernya yang gurih dan lezat.

Salah satunya kuliner hidden gem yang belum diketahui oleh banyak orang, khususnya orang luar kota.

Kuliner ini adalah Blengong Goreng Bapak Taswadi yang beralamatkan di RT 01 RW 02 Gang 3, Kelurahan Sumurpanggang, Kecamatan Margadana, Kota Tegal. Meskipun lokasinya masuk ke dalam gang-gang, namun warung tersebut selalu ramai dan tidak pernah sepi pembeli.

Kata warga sekitar, kuliner ini menjadi langganan para PNS, pejabat, hingga Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono. Keberadaan kuliner ini sebenarnya sudah sangat legendaris, ada sejak 1960-an.

Salah seorang langganan, Budi Susanto mengatakan, ia sudah menjadi langganan di Blengong Goreng Bapak Taswadi.

Biasanya ia datang bersama keluarga atau teman main. Lebih lanjut Ia mengatakan, daging blengong gorengnya itu memiliki tekstur yang empuk dan tidak keras, selain itu dari cita rasanya pun sangat gurih.

“Di sini kami makan disajikan hangat-hangat. Jadi datang pas laper, kita bisa lahap makannya,” ujar Budi, kepada Jurnalis BeeNews.id.

Sri Heni selaku pemiliki kuliner ini mengatakan, usaha blengong gorengnya sudah turun temurun dari orangtua, sejak 1960-an. Warung blengong goreng yang berada persis di samping rumah, ini buka hanya jam makan siang, pukul 10.30 – 14.00 WIB.

Sedangkan saat sore, ia dan keluarganya berjualan kupat blengong di sentral kuliner di Jalan Sawo, Kelurahan Kraton.

“Kalau yang di sini hanya untuk makan siang. Menunya hanya blengong goreng dan sate semur,” ujarnya.

Advertisements

Lebih lanjut Heni mengatakan, blengong gorengnya memang terkenal memiliki cita rasa yang gurih, rasa tersebut diperoleh dari bumbu khas warisan keluarga. Selain itu, blengong yang merupakan peranakan bebek dan entok dagingnya memang enak.

“Gurihnya karena masaknya, merebusnya lama kurang lebih enam jam dan resep bumbunya,” katanya.

Heni merasa bersyukur, setiap siang hari warungnya selalu ramai. Bahkan wali kota juga sering memesannya. Dalam sehari ia bisa menghabiskan 15 ekor blengong, jumlah tersebut lalu dibagi untuk warung yang di rumah dan untuk sore hari di Jalan Sawo.

“Untuk harga sendiri sangat terjangkau ya mas, daging goreng Rp. 10.000 per potong dan sate semur Rp. 4.000 per tusuk saja,” jelasnya.
(Red3/Kuliner)

Editor : Nur Hayati

TAG :, ,
Statistik Situs
  • Total halaman dikunjungi: 117,822